AKAD WAKALAH SAMSAROH

Perjanjian Kerjasama Antara Ahsana Property Syariah Dengan Agen Independen (Perorangan)

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA AGENT PROPERTY SYARIAH

Alamat Email
Pada Hari Ini
PIHAK PERTAMA

Nama Lengkap : Irfan Sanyoto Roniadi
Jabatan : CMO Ahsana Property Syariah
Alamat : Kedanyang Gresik
No. KTP : 357827 100783 0003

Bertindak untuk dan atas nama Ahsana Property Syariah yang selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA.

PIHAK KEDUA

Nama Lengkap
Alamat Lengkap
No. WhatsApp

Kirim Foto KTP/SIM

Sudah Menjadi Marketing Property Selama
< 1 Tahun1-3 Tahun4-5 Tahun> 5 TahunYang lain :

Apakah data di atas sesuai dengan data yang Anda miliki?
Ya

Dalam hal ini bertindak selaku dan atas nama pribadi selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA.

Secara bersama-sama PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA selanjutnya disebut sebagai PARA PIHAK.

Selanjutnya PARA PIHAK menyepakati syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam pasal-pasal berikut :

PASAL 1 : MUKADIMAH AKAD SAMSARAH (KETENTUAN POKOK HUKUM SYARA’ TENTANG SAMSARAH)

PENGERTIAN SAMSARAH :

  • Samsarah (brokerage) adalah suatu profesi (pekerjaan) dimana pelakunya menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Simsar (pelaku samsarah, broker) adalah perantara antara penjual dan pembeli. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha, hlm. 191).
  • Para fuqoha (ahli fiqih) mendefinisikan simsar (pelaku samsarah) sebagai orang yang bekerja untuk orang lain dengan upah baik untuk menjual maupun untuk membeli.
  • Definisi simsar juga berlaku untuk dallaal, yaitu orang yang bekerja untuk orang lain dengan upah baik menjual maupun membeli.

HUKUM SAMSARAH :

  • Samsarah adalah pekerjaan yang halal menurut Syariah Islam.
  • Dalilnya hadits Nabi SAW yang men-taqrir samsarah pada masa Nabi SAW.

Dari Qais bin Abi Gharazah Al Kinani RA, dia berkata :

كُنَّا نَبْتَاعُ الأَوْسَاقَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَنُسَمِّي أَنْفُسَنَا سَمَاسِرَةً، فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَسَمَّانَا بِاسْمٍ هُوَ أَحْسَنُ مِنِ اسْمِنَا قَالَ: يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

“Dahulu kami (para shahabat) berjual beli di pasar-pasar di Madinah dan kami menyebut diri kami samasirah (para simsar/makelar). Keluarlah Rasululullah SAW kepada kami kemudian beliau menamai kami dengan nama yang lebih baik daripada nama dari kami. Rasulullah SAW bersabda,’Wahai golongan para pedagang, sesungguhnya jual beli sering kali disertai dengan ucapan yang sia-sia dan sumpah, maka bersihkanlah itu dengan shadaqah.”
(HR Abu Dawud no 3326; Ibnu Majah no 2145; Ahmad 4/6; Al Hakim dalam Al Mustadrak no 2138, 2139, 2140, dan 2141).
(Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah, 2/311; Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram fi al Islam, hlm.226).

SYARAT-SYARAT SAMSARAH
Dalam samsarah disyaratkan beberapa hal sebagai berikut antara lain :

  1. Pekerjaan simsar itu harus jelas (ma’lum)
  2. Upah (ujrah) atau komisi (‘umulah) yang diterima oleh simsar harus jelas (ma’lum)
  3. Upah bagi samsarah tersebut tidak terlalu tinggi (ghaban fahisy) atau mengeksploitir kebutuhan masyarakat.
  4. Samsarah yang dilakukan tidak termasuk samsarah yang diharamkan, misalnya samsarah dalam jual beli antara orang kota dengan orang dusun.

Keterangan masing-masing syarat di atas :

  • Keterangan syarat (1) :
  • pekerjaan simsar itu harus jelas (ma’lum), baik dengan menjelaskan barang yang akan diperjual-belikan, atau dengan menjelaskan berapa lama simsar bekerja. Jika pekerjaan simsar tidak jelas, maka akad samsarahnya fasid. (Taqiyuddin An Nabhani, Syakhshiyyah Islamiyyah, 2/311).
    Contoh ucapan penjual untuk memperjelas pekerjaan atau lama kerja simsar.
    Penjual berkata kepada simsar, ”Juallah rumahku yang itu, yang alamatnya di sini, dst.” (menjelaskan barang yang akan diperjual-belikan). Atau,”Juallah rumahku dalam waktu satu minggu ini.” (menjelaskan berapa lama simsar akan bekerja).

  • Keterangan syarat (2) :
  • upah (ujrah) atau komisi (‘umulah) yang diterima oleh simsar harus jelas (ma’lum). Besarnya upah boleh ditetapkan sbb :

    1. Berupa jumlah uang tertentu,
    2. Berupa persentase dari laba,
    3. Berupa persentase dari harga barang,
    4. Berupa kelebihan harga dari harga yang ditetapkan penjual,
    5. Atau berupa ketentuan yang lainnya sesuai kesepakatan.

    (Yusuf Al Qardhawi, Al Halal wal Haran fil Islam hlm. 226, Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/310)

    Syaikh Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya Al Halal wal Haram fil Islam hlm. 226 menjelaskan mengenai upah bagi simsar sbb :

    قال البخاري في صحيحه : لم ير بن سيرين وعطاء وإبراهيم و الحسن بأجر السمسار بأسا، وقال بن عباس : لا بأس بأن يقول : بع هذا الثوب فما زاد على كذا وكذا فهو لك. وقال بن سيرين : إذا قال : بعه بكذا فما كان من ربح لك أو بيني وبينك فلا بأس. وقال النبي صلى الله عليه وسلم : المسلمون عند شروطهم

    Imam Bukhari berkata dalam kitabnya Shahih Bukhari,”Ibnu Sirin, Atha`, Ibrahim [An Nakha`i], Al Hasan [Al Bashri], memandang tidak masalah mengenai upah bagi simsar [hukumnya boleh]. Ibnu Abbas berkata, “Tidak masalah [penjual] berkata [kepada simsar],’Juallah olehmu baju ini dengan harga sekian, maka apa yang lebih dari harga sekian itu, menjadi milikmu.” Ibnu Sirin berkata,”Jika [penjual] berkata [kepada simsar],’Juallah olehmu barang ini dengan harga sekian. Apa yang menjadi keuntungannya, itu menjadi milikmu, atau dibagi antara aku dan kamu.’ maka hal itu tidak masalah.’ Telah bersabda Nabi SAW,”Kaum muslimin [bermuamalah] menurut syarat-syarat di antara mereka.”
    (Lihat Yusuf Al Qaradhawi, Al Halal wal Haram fil Islam hlm. 226.).

  • Keterangan syarat (3) :
  • Upah bagi samsarah tersebut tidak boleh terlalu tinggi (ghaban fahisy) atau mengeksploitir kebutuhan masyarakat.
    Sebab menjual belikan barang dengan terlalu tinggi (ghaban fahisy) telah diharamkan syariah, Mengeksploitir kebutuhan masyarakat akan menimbulkan dharar (bahaya) bagi penjual / pembeli.
    (Lihat Yusuf Al Qaradhawi, Al Halal wal Haram fil Islam hlm. 226.)

  • Keterangan syarat (4) :
  • Samsarah yang dilakukan tidak termasuk samsarah yang diharamkan.
    Misalnya samsarah dalam jual beli antara orang kota dengan orang dusun dimana orang dusun tidak tahu harga kota atau samsarah yang mengandung unsur penipuan (al khidaa’).
    (Ziyad Ghazal, Masyru’ Qanun Al Buyu’, hlm. 59.)
    (Taqiyuddin An Nabhani, As Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/314-315.)

PASAL 2 : KETENTUAN UMUM

  1. Kerjasama ini adalah Kerjasama Samsarah yang dijalankan mengikuti hukum-hukum syariah Islam
  2. Objek kerjasama ini adalah pemasaran project-project AHSANA PROPERTY SYARIAH GROUP untuk membantu menjualkan produk-produknya yang sudah terverifikasi.
  3. Ketentuan pokok hukum syara’ tentang samsarah yang termaktub pada Pasal 1 dokumen ini merupakan satu kesatuan dan bagian tak terpisahkan dari dokumen ini dan dimaksudkan untuk dijadikan rujukan.
PASAL 3 : JANGKA WAKTU PERJANJIAN

  1. Perjanjian ini berlaku berlaku hingga Januari 2021
  2. Selama berlangsungnya akad ini, salah satu pihak boleh mengundurkan diri tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain.
  3. Selama masa perjanjian ini berlaku, PARA PIHAK aktif berinteraksi.
  4. Apabila salah satu pihak mengundurkan diri maka secara otomatis kesepakatan ini berakhir.
PASAL 4 : PERUBAHAN AKAD
Selama berlangsungnya kerjasama ini dimungkinkan untuk dilakukan perubahan klausul akad sesuai kesepakatan PARA PIHAK dengan tetap mengacu kepada ketentuan hukum syara’
PASAL 5 : KEWAJIBAN

  1. Pihak Pertama menyediakan jalur informasi dan komunikasi dengan baik khususnya tentang Product Knowledge selama masa perjanjian kontrak kerjasama.
  2. Pihak Kedua bergabung dalam grup koordinasi yang sudah disediakan oleh Pihak Pertama berdasarkan poin (1)
  3. Pihak Pertama memfasilitasi event-event seperti Survey Serentak, Gathering Konsumen, Pameran, dll.
  4. Pihak Kedua melakukan kegiatan pemasaran atas produk pihak pertama.
  5. Pihak Kedua melakukan aktivitas promosi produk baik secara Online atau Offline maupun keduanya, namun tidak meninggalkan kegiatan edukasi tentang sistem syariah sebelum melakukan aktifitas tersebut.
  6. Pihak Kedua menjelaskan skema penjualan dengan baik kepada calon konsumen.
  7. Pihak Kedua menjembatani keinginan calon konsumen yang perlu disampaikan kepada pimpinan project melalui Pihak Pertama.
  8. Pihak Kedua memberikan data calon konsumen yang akan survey ke lokasi Project maksimal 1 hari sebelum survey lokasi.
  9. Pihak Kedua melakukan pendampingan administrasi hingga selesainya transaksi jual beli.
PASAL 6 : HAK

  1. Pihak Pertama berhak mendapatkan data calon konsumen yang akan survey ke Project.
  2. Pihak Kedua berhak mendapatkan marketing tools dari Pihak Pertama.
  3. Pihak Pertama berhak menerima uang tanda jadi pembelian dan uang pembayaran dari konsumen, untuk kemudian dilaporkan dan diserahkan kepada bagian keuangan Pihak Pertama.
  4. Pihak Pertama berhak melakukan perubahan harga jual produk sesuai keputusan manajemen pihak pertama yang akan dilakukan secara berkala.
  5. Pihak Pertama berhak melakukan perubahan atau membatalkan kesepakatan jual beli dengan konsumen yang tertuang dalam Akad dengan Konsumen jika dianggap perlu.
  6. Pihak Kedua berhak menggunakan fasilitas pemasaran atas izin dari Pihak Pertama.
  7. Pihak Kedua mendapatkan komisi yang disepakati oleh Kedua Pihak.
PASAL 7 : KOMISI

  1. Komisi yang disepakati Pihak Pertama dan Pihak Kedua menjadi hak Pihak Kedua,
  2. Komisi sebesar 1.5% untuk pembelian kredit dan atau 2% untuk pembelian cash, keduanya dikalikan dari harga cash
  3. Pembayaran Komisi dari Pihak Pertama kepada Pihak Kedua dibayarkan :
    • Jika Penjualan TUNAI maka Fee Marketing akan dibayarkan langsung 100%, dilakukan paling lambat 1 minggu setelah konsumen melakukan akad.
    • Jika Penjualan dengan Skema Kredit, maka Fee Marketing dibayarkan Pihak Pertama setelah konsumen membayarkan Pelunasan DP.
  4. Prosentase sewaktu-waktu bisa berubah berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh management proyek.
PASAL 8 : PENYELESAIAN PERSELISIHAN

  1. Jika terjadi perselisihan, PARA PIHAK sepakat untuk menyesaikannya secara musyawarah dan mufakat dengan mengacu pada hukum syara’.
  2. Jika perselisihan antara PARA PIHAK tidak dapat diselesaikan dengan musyawarah maka PARA PIHAK sepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang disepakati oleh PARA PIHAK sebagai yang dipercaya untuk memberikan jalan keluar.
PASAL 9 : LAIN-LAIN

  1. Akad ini dibuat PARA PIHAK dalam keadaan sadar tanpa tekanan pihak manapun.
  2. Hal-hal yang belum diatur dalam perjanjian kerjasama ini, akan dibuat aturan tersendiri berdasarkan musyawarah dan kesepakatan antara kedua belah pihak.
PASAL 10 : PENUTUP
Dokumen ini dibuat dalam 2 (dua) rangkap yang memiliki kekuatan hukum yang sama. Masing-masing salinan dipegang oleh PARA PIHAK.
Setelah akad ini apakah Anda siap menjadi bagian dari marketing Ahsana Property Syariah Group?
YA, SAYA SIAP.

Copyright © 2020 Ahsana Cyber Troops